Di pulau Bacan inilah, Labuha, ibu kota Kabupaten Halmahera Selatan, terletak. Selain menjadi tempat ibu kota kabupaten, di pulau Bacan juga terdapat.
- Bandar udara Usman Sadik
- Keraton Sultan Bacan
- Benteng Bernevald (dibangun Portugis untuk menahan serangan Spanyol)
- Pantai Pawete
- Cagar alam
- Gunung Batusibela (2111 m dpl)
- Masjid Raya Bacan (berusia lebih dari satu abad)
- Makam beberapa sultan dan para ulama dari negeri Jiran.
Batu bacan merupakan 'batu
hidup' karena kemampuannya berproses menjadi lebih indah secara alami
ataupun cukup dengan mengenakannya setiap hari dalam bentuk cincin,
kalung, ataupun kepala sabuk. Batu bacan dengan inklusi atau serat batu
yang banyak secara perlahan akan berubah menjadi lebih bersih (bening)
dan mengkristal dalam waktu bertahun-tahun.
Sebagai contoh, batu bacan
warna hitam secara bertahap mampu berubah menjadi hijau. Tidak cukup
berproses sampai di situ, berikutnya batu ini masih bisa berubah lagi
dalam proses 'pembersihan' sehingga menjadi hijau bening seperti air.
Untuk mempercepat proses tersebut biasanya pemilik batu bacan akan
terus-menerus memakainya hingga berubah warnanya.
Meski pamor batu bacan menguat beberapa tahun belakangan di kalangan
peminat batu mulia namun sebenarnya orang di kawasan empat kerajaan
Maluku (Terante, Tidore, Jailolo, dan Bacan) sudah mengetahui jauh
sebelumnya. Nama pulau penghasil batu bacan sendiri adalah Pulau
Kasiruta. Akan tetapi, penisbahan nama bacan diawali dari tempat pertama
kali batu itu diperdagangkan, yaitu Pulau Bacan yang tidak seberapa
jauh jaraknya dari Pulau Kasiruta.
Batu Bacan memiliki sifat mampu 'hidup' berubah
warna secara alami, dari beberapa jenis yang batu bacan juga dapat menyerap
senyawa lain dari bahan yang melekatinya. Seperti sebutir batu bacan
hijau doko yang dilekatkan dengan tali pengikat berbahan emas mampu
menyerap bahan emas tersebut sehingga bagian dalam batunya muncul
bintik-bintik emas.
Kemampuan dan keindahan dari batu Bacan yang dapat berubah
warna secara alami itulah banyak membuat kagum
pecinta batu mulia di luar negeri seperti dari China, Arab, dan Eropa. Batu Bacan memiliki tingkat
kekerasan batu 7,5 skala Mohs, kekerasan batu bacan hampir sama seperti batu jamrud dan melebihi batu
giok. Dengan keistimewaan dan keunggulan batu bacan itulah banyak
pecinta batu mulia dari luar negeri memburunya sejak tahun 1994. Di
Indonesia sendiri batu ini baru popular belakangan sejak 2005 dimana
sekarang harganya sangat mahal serta kurang logis bagi orang awam.
Penambangan batu bacan sendiri di
Pulau Kasiruta tidaklah mudah karena perlu penggalian tanah hingga lebih
dari 10 meter. Penambang batunya perlu mencari di tanah terdalam demi
mencari urat-urat galur batu bacan. Meski lebih identik dengan warna
hijau, batu bacan sebenarnya memiliki ragam warna lain seperti kuning
tua, kuning muda, merah, putih bening, putih susu, coklat kemerahan,
keunguan, coklat, bahkan juga beragam warna lainnya hingga 9 macam.
Batu bacan diketahui telah menjadi
perhiasan hampir setiap warga sejak masa empat kesultanan (Ternate,
Tidore, Jailolo, dan Bacan) di Maluku Utara, baik itu oleh pria maupun
wanita. Bahkan, batu bacan terbaik menjadi penghias mahkota para sultan
yang masih ada hingga saat ini seperti pada mahkota Kesultanan Ternate.
Sering pula batu ini menjadi hadiah bagi tamu yang menyambangi
pulau-pulau di Maluku. Tahun 1960 saat Presiden Soekarno berkunjung ke
Pulau Bacan dihadiahi warga di sana berupa batu bacan. Presiden SBY juga
sempat menghadiahi Presiden Amerika Serikat, yaitu Barrack Obama berupa
cincin batu bacan saat berkunjung ke Indonesia.
Apabila Anda menyambangi Ternate,
Tidore, Jailolo, atau pun Pulau Bacan maka pastikan mendapatkannya untuk
sebuah cenderamata. Akan tetapi, perlu kecermatan memilih atau mintalah
saran orang yang memahaminya terkait keasliannya. Hindari pula membeli
batu bacan 'mati' yang dibentuk jadi mata kalung atau mata cincin dimana
terkadang batu tersebut tidak akan proses lagi.
Sebagai panduan singkat bahwa jenis batu bacan berkualitas yang umum
dikenal dan beredar di pasaran ada dua, yaitu bacan doko dan bacan
palamea. Bacan doko kebanyakan berwarna hijau tua sedangkan bacan
Palamea berwarna hijau muda kebiruan. Nama palamea dan doko sendiri
diambil dari nama desa di Pulau Kasiruta. Kedua desa tersebut memiliki
deposit batu bacan cukup banyak selain di desa Imbu Imbu dan Desa
Besori. Batu bacan sendiri merupakan jenis batu krisokola yang
kebanyakan berwarna hijau kebiruan. Kekerasan awal batu ini berkisar
antara 3-4 pada skala Mohs. Batu Bacan berkualitas adalah yang telah
mengalami proses silisifikasi sehingga kekerasannya mencapai 7 pada
skala Mohs. Batu bacan yang sudah memproses alami akan terlihat
mengkilat dan keras ketika sudah diasah.
Cara mengetahui keaslian batu Bacan
.Cara mengetahui keaslian batu Bacan
- Gesekkan pada kaca. Batu bacan asli dapat menggores kaca ketika digesekkan.
- Bakar. Saat dibakar, permukaan batu bacan asli akan terlihat seperti minyak dan akan hilang ketika dibersihkan. Sedangkan batu bacan palsu akan meninggalkan bekas yang tidak bisa dihilangkan.
- Ditimbang. Timbang dua batu bacan dengan ukuran yang sama. Batu bacan yang lebih ringan kemungkinan besar adalah batu bacan palsu
- Disenter. Saat disenter, batu bacan yang terkena cahaya akan terlihat serat-serat khas yang tidak mungkin ada pada batu bacan palsu.
- Perhatikan perubahan batu. Batu bacan yang asli lama kelamaan akan berubah warna. Dari hitam, batu bacan akan berubah menjadi hijau dan seterusnya hingga menjadi batu yang berwarna bening.

No comments:
Post a Comment